Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Tuesday, October 8, 2013

Money Laundry, Sin Laundry

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

MONEY laundry, biasa juga disebut dengan “kejahatan kerah putih”. Sebuah istilah yang “sarat makna”, di mana kesalahan tak berada pada area hitam putih melainkan abu-abu. Uang haram hasil keringat para mafia, dari berbagai usaha ilegal ditumpuk. Di sana ada uang hasil korupsi kelas berat, judi gelap, hingga uang transaksi narkoba. Uang ini tak boleh berjejak, agar tak terungkap. Maka perlu mesin pencuci. Uang dicuci lewat badan usaha resmi, lembaga sosial, hingga tak kurang lembaga agama juga ada yang turut menikmatinya.

Pinjaman jangka panjang dengan grace period yang sangat menggiurkan, membuat banyak orang segera berburu dan menyambarnya. Uang haram ini segera bertuan dan masuk dalam transaksi resmi dengan berbaju investasi, pinjaman lunak dan seterusnya. Uang berputar dan semakin hari semakin bersih. Bagi pemilik uang haram, tak mengapa jika dia menabur puluhan persen untuk biaya cuci. Yang pasti, uang haram yang mudah didapat, kini jadi uang “bersih” karena di“cuci”. Sementara bagi yang menerima cucian, tentu saja ini menyenangkan, karena peluang mendapatkan uang mudah dan murah, serta terbukanya kesempatan mudah meraup untuk berikutnya. Jika cerdas maka keuntungan berganda dapat diraup.

Pertama, tentu saja untung karena mendapatkan modal murah dengan grace period yang wah. Nah, jika dia memakai maksimal pada masa grace period saja maka sudah mengumpulkan setumpuk keuntungan (modal tanpa interest). Pada waktu mulai mencicil, dia membayar dengan keuntungan yang didapat pada masa grace period, yang artinya dia berusaha dengan modal dengkul, alias tanpa modal, namun dapat untung yang luar biasa besarnya. Siapa yang tak tergiur dengan money laundry? Apalagi dalam konteks ekonomi sulit, semua orang akan berbaris untuk memburunya. Ditambah lagi ranah hukum yang kurang tegas, serta hukum main mata, membuat money laundry selalu punya tempat luas untuk bermain. Maklumlah, korupsi saja orang rela, makan jatah korban gempa juga ya, apalagi mencuci uang haram untuk jadi halal, pasti dengan senang hati.

Market money laundry memang sangat luas, dan akan terus semakin luas, mengingat dunia ini sangat menjunjujung tinggi, dan rela, menjadi budak Tuan Materialistis. Celakanya adalah ketika ada juga sinyalir keterlibatan lembaga agama dalam menikmati money laundry ini. Ambisi berbagai yayasan atau bahkan gereja untuk “melayani Tuhan” dengan proyek super-wah, memungkinkan penggunaan money laundry. Lewat jalur ini pencucian uang sudah pasti lebih bersih lagi. Manipulasi proyek sebagai pelayanan untuk Tuhan, padahal sejatinya berpusat pada keuntungan personal sudah bukan rahasia lagi. Transaksi menjual pelayanan lewat pembangunan gedung gereja, sekolah, gedung serbaguna, banyak yang ternoda karena perilaku salah yang semakin menggila. Yang murni melayani jadi terluka, sementara yang menipu justru tampak sukses. Ini bisa dipahami karena mereka menghalalkan segala cara, termasuk mencatut nama Tuhan dengan cara yang murahan. Bertumbuh cepat, spektakuler, dan, yang ironis, mata jemaat seakan buta, tak lagi mampu menyeleksi dan mengenali mana yang asli atau bukan asli.

Perintah Tuhan untuk menguji segala sesuatu macet total. Sebaliknya kepalsuan semakin melangit meraup sukses. Mengapa umat mengabaikan kenyataan ini? Kebanyakan umat tak peduli karena terjebak pada ibadah hanyalah aktivitas agamawi. Bernyanyi, bagian yang menyenangkan emosi, tanpa pernah menggugah hati hingga membawa seseorang pada perubahan diri. Berdoa tak lebih dari menggugat surga untuk berkat ilahi, bukan bagaimana menyerahkan diri, agar dipakai oleh Tuhan, sang pemilik ladang pelayanan. Sementara firman Tuhan yang didengar, dimasukkan dalam kumpulan janji yang sewaktu-waktu bisa diklaim, seperti sebuah simpanan atau ansuransi. Janji yang akan diklaim berdasarkan situasi yang dialami dalam kesehariaannya. Itu sebab ayat-ayat Alkitab yang diingat, kebanyakan yang berkaitan dengan keseharian kehidupan, tak langsung berhubungan dengan semangat kehidupan yang tinggi yang percaya penuh pada pemeliharaan ilahi.

Ditambah lagi, menguji dianggap bukan tugas diri, bahkan lebih parah bisa jadi kualat karena dianggap tidak taat pada pendeta. Umat takut kualat, namun di sisi lain tak penah cukup takut mengabaikan perintah Allah yang jelas, yaitu menguji segala sesuatu. Hal ini ditumbuhkembangkan dalam komunitas Kristen. Ketaatan dan menerima apa adanya kata pemimpin agama membuat umat tak memiliki roh menguji. Asal terima, asal percaya, mengakibatkan gereja justru tergelincir deras. Umat merasa benar, suci dengan menerima apa saja. Sebuah ketaatan yang gelap mata. Di sisi lain ternyata umat juga tak bersih-bersih amat, sehingga terjadilah bargaining dosa. Pemimpin bermain di sana, umat bermain di sini. Di sinilah terjadi sin laundry. Di satu sisi ada money laundry, namun tak dikritisi. Sementara di sisi lain ada sin laundry yang dibalut pada sikap “taat” pada pemimpin. Umat menganggap dengan taat maka dia tak berdosa. Bahkan untuk memuluskan sikap sin laundry-nya umat tak sekadar taat, bahkan turut mengucurkan dana melengkapi kebutuhan yang ada. Apakah mengucurkan dana itu salah? Bukankah itu persembahan yang mereka beri dengan sukarela? Nah, di sinilah letak permasalahannya. Kalau dana itu hasil keringat sendiri, dan dipersembahkan dengan sukarela, tentu saja itu mulia sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab. Masalahnya adalah, kalau umat taat karena merasa punya dosa yang disembunyikan, dan memberi dana untuk menyembunyikan dosanya, bukankah itu menakutkan?

Alkisah, ada seorang pengurus sebuah gereja memiliki istri dan anak di luar pernikahan resminya. Laporan dari jemaat yang kritis masuk. Tak bisa dibendung, dan terus semakin kuat. Maka digelarlah rapat untuk memecahkan kasus ini. Ironisnya, keputusan berpusat bukan pada masalah yang ada, melainkan dana. Bagaimana bisa? Bendahara memberikan laporan berdasarkan permintaan pemimpin, yaitu bahwa pengurus yang dilaporkan oleh jemaat itu ternyata perpuluhannya naik terus. Dan, ah, oh, ini yang mengerikan, maka pemimpin menyimpulkan, bahwa tidak mungkin pengurus itu berbuat dosa mengingat perpuluhannya naik terus. Jadi, gugatan jemaat dianggap tak berdasar (maklum dia bukan sumber dana). Jadilah si jemaat yang berusaha benar, kecewa berat.

Nah, money laundry ke sin laundry, bergerak dinamis karena selalu punya pasar. Sebuah antiklimaks yang mengerikan dari perjalanan gereja yang seharusnya. Dosa semakin menjadi, cuci-mencuci dosa tak berhenti. Pengampunan dari Yesus atas pengakuan yang tulus semakin menipis. Karena doa yang jujur dalam pengakuan dosa makin langka. Cuci dosa semakin luar biasa (maklum “pemilik” gereja butuh dana tak terbatas), seakan meneruskan kesalahan gereja di waktu lampau, ketika gereja memperjualbelikan surat pengampunan dosa. Dulu orang berkata Katolik salah, tapi sejarah bergulir dan ternyata Protestan tak kurang aibnya. Dan, yang pasti semua terancam endusan cuci dosa gaya baru. Dan yang juga pasti, semua gereja Kristen—yang Katolik ataupun Protestan, harusnya bahu-membahu menjaga kemurnian gereja dengan menjadi model yang benar. Supaya yang tak benar tertelanjangi. Semoga cuci dosa di luar Kristus berhenti, dan orang tak bermimpi bahwa gereja yang diberkati adalah “gereja beruang”. Dan, pemimpin tak melegalkan cuci dosa , demi keuntungan segepok uang.

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer