Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Monday, October 7, 2013

Kebebasan dalam Kemerdekaan

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

MERDEKA! Merdeka! Merdeka! Tiga kali pekik itu berkumandang, maka sah sudah kemerdekaan itu. Ya, pekik tiga kali menjadi simbol dalam berbagai acara kemerdekaan RI ke-61, Agustus 2006 ini, baik formal maupun non-formal. Kemerdekaan RI kali ini diwarnai berbagai peristiwa kelabu yang meliputi negeri tercinta ini. Mulai dari tsunami di pantai Pangandaran, Jawa Barat, yang menelan korban sangat banyak. Lalu ada gempa yang juga tak sedikit memakan korban nyawa. Dan, tak ketinggalan lumpur panas di Sidoarjo yang cukup ganas, menenggelamkan tiga desa, 17 pabrik, membuat ribuan warga kehilangan pekerjaan.

Diperkirakan, korban akan terus bertambah sebelum lubang lumpur itu berhasil disumbat. Sementara itu, para korban merintih dan mengeluhkan pertolongan yang terkesan lambat dan kurang memadai. Semua hanya indah dalam rencana dan pernyataan para pejabat di media. Ganti-rugi korban PT Lapindo oleh keluarga Bakrie (pemilik saham mayoritas), yang ditekankan dengan jelas oleh Wapres di media, ternyata masih belum merata di lapangan. Tak sedikit rakyat yang merayakan hari kemerdekaan dalam kedukaan, bahkan tangisan.

Di pentas dunia, kita menyaksikan Libanon dibombardir Israel. Tragis, karena yang berperang adalah Israel dengan Hizbullah, namun yang menjadi korban adalah Libanon dan rakyatnya, yang sebagian besar justru tak mengurusi masalah kekuasaan. Di Kota Qana, Libanon, tempat suku Asyer (Yosua 19: 28)—bukan Cana di Galilea Israel, tempat Yesus mengubah air menjadi anggur (Injil Yohanes 2:1-11)—bom Israel memakan banyak korban sipil, yang menurut Israel dijadikan tameng oleh Hizbullah. Perang ini tak sekadar perang peluru, tapi juga perang kata, perang syaraf dan tentu saja perang ideologi. Perang yang selalu tak jelas siapa tuannya, tapi sangat jelas siapa korbannya. Ya, sipil yang tak bersenjata, anak-anak yang tak berdaya. Gereja pun tak luput dari ledakan rudal maupun bom Israel. Lalu dari Inggris terdengar berita berhasilnya digagalkan rencana teroris untuk mengguncang Inggris. Yang ini masih pro dan kontra.

Dari semua peristiwa, ada yang sama, yaitu sama sama menciptakan efek takut yang luar biasa. Bukan saja takut menjadi korban, tetapi juga takut kehilangan orang yang dikasihi, takut kehilangan harta. Ketakutan, karena ketidakpastian di mana kengerian bisa tiba setiap saat. Di arena rasa takut yang mencekam, yang bisa datang dari berbagai jurusan, manusia terperangkap, terikat, tanpa daya. Tragisnya, di Bumi yang merdeka ini ketidakpastian sering kali muncul ke permukaan, sehingga melahirkan gugatan, “Sudahkah kita merdeka?”

Di republik ini banyak katidakpastian yang melahirkan ketakutan. Ketidapastian di lingkar hukum, yang seringkali dijamin pasti oleh para petinggi namun tidak demikian dalam kenyataan. Tak sedikit pencari keadilan harus kecewa, karena kalah sekalipun mereka ada di jalur yang benar. Lalu lintas uang yang tak terdeteksi, sudah bukan rahasia menjadi penentu keputusan hukum. Kata mafia bahkan akrab dikawinkan dengan hukum. Mafia peradilan itu ada, sekalipun sulit menangkap basah dalangnya. Beberapa kasus terakhir telah menunjukkan fakta tak terbantah tentang hal itu. (Ingat kasus Probosutedjo, yang melibatkan pengacaranya dan aparat hukum di MA).

Belum lagi ketidakpastian hak minoritas, yang mestinya istilah ini tidak pas dalam kehidupan sebuah bangsa yang satu, negara yang satu, dan satu juga bahasanya, sebagaimana tertuang dalam semangat juang Sumpah Pemuda. Dalam kenyataan segera terlihat telanjang arogansi mayoritas, yang selalu memaksakan kehendak atas kelompok yang dibuat minoritas. Dan lagi-lagi hukum pun tidak mampu tampil menjadi pengadil yang adil. Belum lagi penyerobotan hak oleh yang kuat ekonominya terhadap mereka yang berekonomi lemah. Di sini hukum malah sering bermain mata. Jika demikian, bukankah cukup layak untuk bertanya, “Sudahkah kita merdeka”, dalam arti yang sesungguhnya?

Jika ditilik dalam konteks politik, tentu saja kita sudah merdeka. Darah merah para pahlawan bangsa telah memberi kemerdekaan. Darah mereka tak sia-sia mengusir penjajah, sekalipun mungkin hati mereka tersayat pada kenyataan pahit hidup anak bangsa. Di situasi ini tepat sekali kata Yesus kepada orang Yahudi (Yohanes 8:30-41). Orang Yahudi merasa sebagai orang yang merdeka. Dengan kepongahan yang khas Yahudi, mereka menganggap diri benar, keturunan Abraham bapa orang beriman. “Kami tak pernah menjadi hamba siapa pun,” tegas mereka, sekalipun pernah diperbudak di Mesir, terbuang ke Babel, bahkan saat itu dalam penjajahan Roma. Mereka merasa bukan kaum terjajah, dan yang lain itu hanyalah orang kafir yang celaka.

Kesombongan telah menutup rapat mata mereka untuk melihat fakta. Merasa paling rohani maka yang lain itu hanyalah kehinaan, termasuk sang penjajah. Dan, kini lebih tragis lagi, di depan Yesus Sang Kebenaran, mereka tetap merasa benar. Mereka hanya anak secara kuantitas, tapi tidak dalam kualitas. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mereka belum merdeka karena mereka hidup dalam dosa. Itu berarti mereka diperhamba dosa. Dosa karena mereka menolak Yesus, yang berarti menolak kebenaran yang sejati (Yohanes 14: 6), sementara Abraham mencintai kebenaran dan merindukan Mesias.

Yesus bahkan dengan tegas mengatakan, bahwa sebelum Abraham ada, DIA telah ada (Yohanes 8: 58). Orang Yahudi marah, mereka mengambil batu untuk melempar Yesus. Dan itu membuktikan bahwa mereka nyata-nyata memang belum merdeka. Merasa sudah merdeka, tetapi ternyata belum merdeka. Merasa benar, padahal mereka musuh kebenaran. Sebuah lukisan yang menyedihkan, bukan saja tidak merdeka bahkan tak menyadari keadaan diri. Situasi yang mirip di dalam negeri, di mana para pejabat selalu merasa bahwa kita sudah maju, kemiskinan berkurang, padahal kenyataannya tidak. Sebuah kesombongan atau penipuan, tapi yang pasti kebebasan di dalam kemerdekaan masih bayang-bayang di negeri ini. Semoga semakin hari semakin nyata, dan Anda, saya, kita semua, bertanggung jawab atasnya, dengan mengamati, mengkritisi hingga beraksi. Dirgahayu kebebasan dalam kemerdekaan, inilah kerinduan yang terpendam.

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer