Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Monday, October 7, 2013

KEWAJIBAN ASASI UMAT

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

ADA banyak hal yang menjadi kewajiban setiap orang percaya, sebagai konsekuensi keimanannya kepada Yesus Kristus. Perintah dalam Matius 5:13-16, adalah salah satunya, yakni wajib menjadi garam dan terang dunia. Fungsi wajib garam masa itu adalah untuk membersihkan kotoran atau kuman, mengawetkan makanan, memberi rasa enak pada makanan, mencegah infeksi, dan juga alat untuk beribadah (Imamat 2:13).

Singkatnya, garam sangat multifungsi, sangat bermanfaat dan sangat aktual, juga kontekstual.

Sementara fungsi wajib terang lebih akrab lagi, yaitu menelanjangi kegelapan, menguasai kegelapan, dan tentu saja menerangi kehidupan. Tanpa terang sama dengan tanpa pengharapan, tak ada kehidupan di sana. Sementara kegelapan sangat akrab dengan ketertinggalan, keterpurukan, tak ada pengharapan. Kata terang bahkan telah menginspirasi R.A.Kartini dalam memberi judul bukunya: “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ada sebuah harapan yang coba dibangun Kartini. Dan, kata “terang” pun kerap dipakai para polisi penyelidik, dalam ungkapan sudah menemukan titik terang kasus yang sedang ditangani. Artinya harapan menyibak misteri adalah niscaya.

Kewajiban setiap orang percaya menjadi garam dan terang menuntut umat berperan aktif di atas panggung kehidupan. Tak boleh ada yang absen dengan alasan apa pun. Semua wajib, itu hukumnya. Wajib membersihkan kotoran-kotoran yang diciptakan manusia-manusia serakah, yang rajin menabur dosa. Mereka yang membangun kebenaran sendiri, yang menganggap dusta adalah biasa, bahkan bagian dari cara dalam memenangkan kompetisi hidup. Mereka menjungkirbalikkan kebenaran dengan membeli saksi, dan membayar pendusta.

Di tengah maraknya gelombang ketidakbenaran, orang percaya harus tampil sebagai garam yang membersihkan, dan terang yang menelanjangi. Banyak orang akan berkata, betapa berat dan apa mungkin? Sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi, mengingat arus yang sangat kuat. Jika tak kuat, bukannya membersihkan atau menelanjangi, bahkan sebaliknya bisa bisa malah terhanyut. Lalu bagaimana? Yang pasti, ketika Yesus Kristus, kepala gereja, memerintah maka mustahil perintah-NYA tak bisa dijalankan. Lebih lagi, DIA sendiri berjanji akan menyertai setiap orang yang bertindak atas nama-NYA, dan menjamin bahwa tindakan yang benar akan selalu menjadi pemenang.

Yang menjadi masalah justru terletak pada orang percaya sebagai eksekutor dalam mengeksekusi ketidakbenaran. Kurangnya kesadaran akan mutlaknya kewajiban menjadi kendala terbesar. Banyak umat berpikir bahwa percaya hanyalah sebuah situasi menyenangkan untuk menikmati berkat-berkat Tuhan belaka. Mereka berdalih dan menjadikan paham seperti ini sebagai tempat persembunyian, sekaligus melepaskan diri dari panggilan yang sejati. Sembuh dari sakit, menjadi kaya meninggalkan kemiskinan, sukses, dan menjadi kepala, bukan ekor.

Berkat Tuhan tentu saja tidak salah, namun adalah salah jika mengangap bahwa berkat semata-mata: sembuh, kaya atau sukses. Apakah Paulus tak diberkati karena duri dalam tubuhnya yang sangat menyakitkan tak dicabut oleh Tuhan (II Kor 12:7-10), atau Timotius yang harus mengonsumsi sari anggur karena gangguan pencernaan yang berkepanjangan (I Tim 5:23). Apakah Petrus juga tak diberkati hanya karena tak memiliki emas dan perak (Kisah 3:6). Dan, apakah Yesus juga tak diberkati, mengingat semenjak lahir dan sepanjang hidup-NYA miskin? Bahkan akhir jalan-NYA pun tak sukses, karena disalibkan, terhina dan bukannya jadi “raja mulia” di istana seperti Herodes.

Nah, konsep ini harus ditumbuhkembangkan dalam diri umat, bahwa berkat sejati adalah, boleh hidup melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dan menjadi saksi bagi DIA. Apakah itu dalam keadaan kaya atau miskin, sehat atau sakit, sukses atau teraniaya. Dengan demikian terbukalah jalan untuk menjadi garam dan terang dunia. Di posisi ini, umat tak lagi terikat pada sekadar nilai-nilai kuantitatif namun memasuki wilayah yang utuh yaitu kualitatif.

Menderita atau teraniaya karena kebenaran bukan lagi momok yang menakutkan, melainkan kehormatan yang dinantikan. Tak lagi takut kehilangan harta atau posisi, bahkan sebaliknya siap melepas apa saja asal tetap terikat kepada Yesus Kristus sumber kebenaran yang sudah mendemonstrasikannya. Umat harus diberi pencerahan terus-menerus dalam kebenaran Firman Tuhan. Kehadiran orang percaya harus nyata dalam panggung kehidupan. Ketidakbenaran harus ditelanjangi dengan siap menggung segala konsekuensi yang bisa muncul. Dalam pimpinan Roh Tuhan, tampil berhikmat dan bijaksana, tentu saja menjadi tuntutan utama.

Sebagai gereja, orang percaya seharusnya mampu melihat betapa bobroknya moral dalam keseharian hidup di negeri yang tercinta ini. Coret-moret dalam berbagai kasus yang senantiasa mengorbankan yang lemah. “Kebenaran” hanya berpihak pada yang “berkuasa” dan “beruang”. Mereka mengatur semua nada dan ritme kehidupan dalam kepongahan dan keserakahan. Koruptor merajalela, bahkan bangga dengan hasil curiannya. Mereka tak lagi memiliki rasa malu, bahkan berani tampil berbicara seakan pahlawan, sekalipun yang mendengarkan ingin muntah, namun terpaksa menahannya, jika tak ingin berurusan dengan koruptor gila kuasa. Koruptor yang senantiasa bangga bila berhasil menjebloskan orang yang beroposisi dengannya kebalik tirai besi.

Entah sudah berapa banyak korban mereka, baik moril maupun materil, tapi yang pasti, itu tak akan pernah berhenti hingga maut menjemput mereka dan amuk api akhirat menjilat mereka. Namun, bagi orang percaya, harus diingat bahwa adalah dosa jika membiarkan semua yang terjadi dengan menutup mata. Mencari aman, seakan tak melihat atau merasa. Yang hanya mau melipat tangan berdoa, namun tak pernah berucap, apalagi mencegah. Gereja yang hanya tampil dalam asesoris surga, namun berjiwa dunia. Yang tidak pernah berani menjadikan kehendak Allah di bumi seperti di surga, sekalipun senantiasa menaikkan doa “Bapa Kami” secara fasih.

Bukankah sangat indah kehidupan ini jika setiap orang percaya senada bersinar sebagai terang, menggarami kehidupan yang terang, sehingga kebenaran tampak nyata seturut kehadiran gereja Tuhan? Nah, rasanya tepat jika kita menggugat diri, sudahkah aku memenuhi kewajiban sebagai garam dan terang, atau sekedar berhenti pada hak berkat belaka? Semoga kita, gereja-NYA, menemukan jawabannya.

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer