Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Monday, October 7, 2013

GEREJA DAN PERBEDAAN

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

Perbedaan bukanlah kata asing di Alkitab. Sejak mula manusia diciptakan, perbedaan justru merupakan ekspresi kekayaan yang tidak terbilang. Tataplah alam semesta yang megabesar itu, dan catatlah ada apa di sana? Bintang, bulan, matahari dan planet lainnya, ada dalam perbedaan namun setia dalam kesenadaan, yakni keteraturan. Di dunia, air pun tak kalah semaraknya dengan perbedaan, bahkan warna-warni perbedaan menjadi kekaguman tersendiri atas kekayaan lautan. Dan, tentu saja, manusia sebagai superstar ciptaan Tuhan, diciptakan dalam kesehakekatan sebagai manusia (yang satu), namun sebagai pria dan wanita (yang dua).

Kekayaan dalam perbedaan ini adalah anugerah besar. Perbedaan yang menjadi ruang luas di mana cinta kasih bertumbuh, berkembang dan berbuah. Perbedaan yang memungkinkan manusia saling membutuhkan dan saling mengisi. Tragis, itulah kata yang tepat untuk melukiskan kejatuhan ke dalam dosa yang mengakibatkan perbedaan menjadi malapetaka bagi manusia. Saling mengasihi berubah menjadi saling menguasai. Saling mengisi juga berubah menjadi saling meniadakan.

Namun di kegelapan itu, muncul sinar pengharapan dari salib yang kembali mempersatukan. Yesus telah tersalib, menjembatani keterpisahan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia. Kematian-Nya memulihkan dan memperbaharui hubungan antaranak manusia. Dan untuk itu Dia berkata “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39).

Gereja sebagai agen Kasih dituntut untuk mampu memainkan perannya secara maksimal. Pada dirinya sendiri, gereja diingatkan bahwa perbedaan adalah keanekaragaman dalam kesatuan. Paulus dalam I Korintus 12:12-31, melukiskan kepelbagaian sebagai banyak anggota namun satu tubuh, yaitu tubuh Kristus. Perbedaan umat adalah kekayaan yang harus diurus, bukan diberangus. Perbedaan yang harus tunduk pada kekuasaan Kasih (kuasa untuk saling berbagi bukan menguasai).

Itu sebab, perbedaan dalam konteks denominasi harus disikapi dengan bijak dan elegan. Perpecahan yang permanen di antara sesama tubuh Kristus hanyalah ekspresi kemiskinan Kasih Kristus. Jadi, persatuan gereja, sebagai tubuh Kristus, adalah sebuah keniscayaan. Lalu, bagaimana dengan perbedaan keyakinan (agama)? Apakah mungkin lahir sebuah persatuan? Alkitab memang secara tegas mengatakan, “tidak mungkin gelap bersatu dengan terang”. Namun Alkitab yang sama juga berkata, “Kasihilah sesamamu manusia, bahkan musuhmu sekalipun” (Lukas 6:27).

Jadi, perbedaan yang tidak tersatukan tidak sama dengan permusuhan abadi. Bahkan, gelap dan terang harus diterjemahkan sebagai sebuah kesempatan: kesempatan untuk menerangi yang gelap. Permusuhan, adalah antara gelap dan terang (hakekat sifat), bukan manusianya. Di sini gereja harus memainkan peran utamanya, yang menjadi panggilan hidupnya, yakni, menabur damai di Bumi. Gereja tak diminta mengumbar amarah pada kejahatan dari “musuh gereja”. Namun, gereja dituntut menyuarakan kebenaran dalam keberanian kepada siapa saja, termasuk “musuh gereja”. Sebuah sikap paradoks (dua hal bertolak belakang, tapi keduanya betul) yang tak mudah, tak mengumbar amarah tapi bersuara lantang. Tak mudah, tetapi juga tak susah bagi mereka yang telah mengalami pertobatan.

Pertobatan, yang membawa manusia percaya mampu bahagia dalam penderitaannya dan tersenyum dalam kedukaannya. Batapa dahsyatnya kekuatan gereja, maka sangat niscaya menaklukkan musuh dengan kuasa kasih. Persatuan dalam perbedaan keyakinan adalah wilayah kedaulatan Tuhan, namun membagi diri, untuk hidup saling menghargai dan mengasihi adalah panggilan kita bersama sebagai gereja Tuhan. Di tengah situasi seperti ini, khususnya dalam konteks Indonesia yang sangat pluralis (suku, agama, ras), umat Kristen harus melengkapi diri dengan kesadaran dan pembelajaran yang tak henti.

Sadar, bahwa kita masih di Bumi, dan umat butuh komunikasi dalam “bahasa bumi”, bukan “bahasa angin surga”, yang jauh dari realita hidup. Sadar, bahwa kita tak sendiri, karena itu perlu pembauran dalam pergaulan pluralis, sebagai reseprentasi Kasih. Sadar, bahwa yang “tidak mudah” itu tidak sama dengan “tidak bisa”. Sadar, kesempatan sangat terbuka, jangan berkurung diri dan terperangkap dalam ruang doa dan puasa, tapi juga tindakan nyata. Melengkapi diri sebagai anak bangsa yang tahu hak dan kewajibannya.

Apakah gereja fasih berdiskusi tentang UUD, UU, kepres, kepmen? Kalau tidak, bagaimana mau berbicara! Jangan hanya sekadar menghafal ayat suci, tapi tidak mampu mengaktualisasikannya. Apakah gereja terus turut berpartisipasi, bukan saja membangun negeri tetapi juga mengawasi. Kalau semua dikerjakan, tentu saja jauh lebih mudah, memperhitungkan berbagai kemungkinan yang bisa merusak sendi-sendi kebersamaan, dalam berbagai perbedaan, sebagai kekayaan bangsa.

Akhirnya, selamat belajar menyikapi perbedaan dalam kedewasaan, sehingga, anda layak disebut pengawal bangsa dan bukan noda bangsa.*

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer