Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Saturday, December 7, 2013

SI PEMBUAT MUKJIZAT YANG DAHSYAT TERNYATA PENYESAT

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================


MENELUSURI pola keberimanan dalam hidup keberagamaan memang selalu menampilkan pernik-pernik yang menggelisahkan. Cobalah lihat dalam kenyataan sehari-hari, ada berbagai motivasi yang terselubung, yang berpusat pada diri, yang menjadi alasan seseorang mengapa beragama. Nama Tuhan diucapkan, namun keinginan diri yang diutamakan. Tuhan bukan lagi yang disembah, ditakuti dan dihormati, melainkan Tuhan yang dieksploitasi.

Kondisi yang memprihatinkan, namun inilah fakta yang terjadi sejak dulu, bahkan di era kini. Ingat apa yang menjadi tuntutan orang Yahudi terhadap keilahian Yesus Kristus? Mereka menggugat agar Tuhan Yesus menurunkan api dari langit sebagai bukti bahwa Dia anak Allah yang hidup. Ironis karena Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat manusia, harus membuktikan diri kepada manusia yang adalah ciptaan-Nya. Tak jelas lagi yang mana Tuhan dan yang mana umat. Sangat pas dan lugas, bagaimana Rasul Yohanes menggambarkan ironi perilaku manusia terhadap lawatan Sang Pencipta (band. Yohanes 1:1-14).

Inilah wajah buram agama. Yahudi yang terdiri dari kelompok elite agama, baik dari aliran Farisi maupun Saduki, mereka adalah para petinggi di kemajelisan agama Yahudi. Mereka terdidik dalam soal agama, dan sangat representatif disebut sebagai ahli Taurat. Ya, ahli soal Taurat, soal Perjanjian Lama, bahkan saking ahlinya mereka tahu di mana Mesias akan dilahirkan (band. Matius 2: 4-6). Mereka bisa melukiskan semuanya dengan tepat, namun tak merasa perlu untuk berada dan terlibat di sana. Mereka sangat menyukai kursi kehormatannya dan tak punya sedikit pun waktu untuk meninggalkannya. Tak ada waktu untuk menghadap Tuhan dalam pengertian spiritual yang seutuhnya. Mereka hanya punya waktu untuk ritual kegamaan, namun itu pun dalam rangka mempertahankan status mereka sebagai rohaniwan yang terhormat. Ya, mereka harus membangun image itu agar tetap memiliki legalitas sebagai pemimpin agama.

Dapat dibayangkan bukan, jika waktu untuk Tuhan saja tak tersedia, apalagi untuk umat, khususnya umat yang termarjinalkan. Mereka mungkin masih ada waktu, tapi untuk jemaat yang dinilai menguntungkan. Inilah potret keagamaan. Namun ironi di sisi yang lain adalah ketika umat terlibat pula dalam pemalsuan diri. Mereka menikmati apa yang terjadi dalam rangka bersembunyi dari hidup suci. Kepalsuan pemimpin agama dan kenaifan umat menyatu menjadi malapetaka gereja. Umat tak lagi kritis pada kebenaran. Kalaupun mereka kritis, itu lebih kepada apa yang dianggap merugikan dirinya, bukan karena penyelewengan pemberitaan Firman. Umat hanya ribut soal aturan dan peraturan, ribut soal ritual yang emosional atau tidak. Singkatnya hanya ribut mengkritisi hal-hal lahiriah agama, bukan esensinya.

Di tengah situasi keagamaan yang seperti ini si penyesat dengan mudah menyelusup ke dalam gereja. Mereka menawarkan berita anugerah, namun di saat yang bersamaan mengabaikan murka Allah. Mereka menjanjikan kemudahan mengikut Tuhan, bukan sangkal diri, pikul salib. Mereka mengobral habis kebenaran dengan hanya mengajarkan satu sisi yang digemari manusia, yang cocok dengan selera diri. Sudah rohani, terpenuhi pula ambisi diri yang tidak suci. Pemimpin palsu ini bernubuat dalam jubah keagamaan, tak ubahnya seperti peramal duniawi. Banyak ketepatan yang mereka ungkapkan, membuat umat semakin dalam dan terikat kepada mereka. Bahkan tak sedikit umat yang tiap kali hendak mengambil keputusan bertanya kepada si pemimpin, bukan lagi kepada Tuhan. Dan uniknya, si pemimpin justru berbicara atas nama Tuhan tentang masa depan si umat.

Tuhan yang selalu bersedia dan punya waktu, bahkan rindu untuk mendengar doa umat, kini dikudeta oleh para pengkhotbah. Umat tak lagi berurusan langsung dengan Tuhan tetapi agen kepalsuan. Padahal dengan jelas Alkitab mencatat bahwa Tuhan dekat kepada mereka yang hancur luluh hatinya. Bahwa Tuhan selalu mendengar doa umat yang setia hidup di dalam Dia. Bahwa Dia adalah Tuhan yang mengerti setiap keluh kesah, yang setia memelihara, dan penuh kasih sayang. Tapi si pemimpin sesat telah menghadirkan Tuhan seakan hanya berbicara melalui dirinya pribadi.

Si pemimpin sesat telah mengkudeta surga, dan dia sukses karena kebodohan umat itu sendiri. Tak hanya bernubuat, si pengkotbah sesat ini bertindak lebih spektakuler lagi. Dia mendemonstrasikan mukjizat yang dahsyat. Dia mengklaim diri sebagai nabi Allah di jaman modern, orang yang disertai dengan karunia yang hebat. Orang sakit dengan segera berbaris panjang, menanti sentuhan tangannya yang dianggap sangat berkuasa. Dan, ah, gilanya mereka disembuhkan dari penyakit apa pun, bahkan penyakit di mana dokter sudah angkat tangan.

Hebat bukan? “Ini kuasa Tuhan,” kata mereka. Namun semua pujian, keuntungan nama, materi mengalir ke dalam diri. Nama Tuhan disebut, tapi umat tak diperintahkan mencari Tuhan, melainkan dibiarkan bergantung pada diri mereka. Dan mereka tak marah jika umat terus mencari dirinya, bahkan dengan cerdik memanfaatkan kebergantungan umat. Tak berhenti di sana, atas nama Tuhan pula mereka mengadakan banyak mukjizat yang dahsyat. Fakta ada dan tak terbantah. Mukjizat dijadikan bukti kebenaran pelayanan, juga bukti penyertaan Tuhan. Di sini si penyesat meraih sukses besar. Semakin hari semakin banyak pengikutnya. Dan yang ironis, si pengikut merasa sedang mengikut Tuhan, padahal mereka sedang membelot dari Tuhan. Bagaimana bisa? Ya, inilah yang dicatat dalam Matius 7:21-23, 24:15-28, Wahyu 13, bahwa pengajar sesat sudah, sedang, dan akan terus muncul silih berganti.

Sejak abad permulaan gereja telah diguncang oleh berbagai kesesatan. Namun tampaknya umat tak pernah cukup belajar. Jangankan sejarah gereja, Alkitab pun tak dibaca sebagaimana mestinya. Umat hanya membaca topik yang disukainya, sangat parsial, sehingga kehilangan benang merah keutuhan kebenaran. Alkitab dengan jelas membicarakan kehadiran si penyesat lengkap dengan segala cara-caranya. Mereka mengajarkan Firman Tuhan, namun memodifikasinya hanya untuk kenikmatan diri. Mereka melakukan banyak mukjizat di dalam nama Tuhan Yesus tapi untuk keuntungan diri.

Yesus Kristus mengadakan banyak kesembuhan dan mukjizat, tetapi tidak menjadi kaya atas apa yang dikerjakannya. Jaman sekarang, dengan mata telanjang Anda akan mudah melihat kekayaan dan kemewahan hidup mereka yang dikenal hebat itu. Mungkin kita akan bertanya mengapa Tuhan membiarkan hal ini, jika memang ini kesesatan. Mungkin Anda lupa, inilah ujian penyaringan: domba yang baik pasti mengenal suara gembala yang baik, begitu pula sebaliknya. Si penyesat memang harus ada, namun celakalah mereka yang menjadi penyesat. Dan, yang tersesat sungguh menyedihkan karena mereka hanyalah membuktikan diri bukan pengikut Kristus yang sejati.

Yesus Kristus Tuhan, memang membiarkan nama-Nya dipergunakan, bahkan dimanipulasi untuk kesesatan, namun jangan bodoh, pada akhir jaman semua mereka akan dihukum dalam kekekalan. Tak lagi ada waktu penyesalan di sana. Karena itu sudah seharusnya umat cerdas dan waspada agar tidak terjebak pada sekadar fenomena mukjizat yang hebat, sampai lalai menguji segala sesuatu sebagaimana yang diajarkan Alkitab (1 Tesalonika 5:19-22). Bukankah Tuhan Yesus sendiri telah mengingatkan: Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih.

Jadilah dan hiduplah sebagai orang pilihan yang menyukai dan melakukan Firman Tuhan, yang selalu bersyukur apa pun yang terjadi di kehidupan ini. Jangan menjadi orang terpanggil yang hanya suka fenomena beragama, memilih ayat yang disuka, dan berburu mukjizat dari hari ke hari. Semoga belum terlambat, dan Anda sempat mengenali si penyesat yang berbuat banyak mukjizat yang dahsyat. Dan tentu saja tidak terperangkap di sana.

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer