Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Wednesday, December 4, 2013

KEAJAIBAN MAKANAN BERBUAH KEMARAHAN

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

PASTI Anda akan mengerutkan dahi, bagaimana bisa makanan berbuah kemarahan? Tetapi itulah kenyataan yang dicatat Alkitab. Dicatat Alkitab? Lagi-lagi pertanyaan semakin mencuat. Ya, apa maksudnya? Empat kitab Injil (Matius 14:13-21, Markus 6: 32-44, Lukas 9:10-17, Yohanes 6:1-15) mencatat peristiwa mukjizat “lima roti dua ikan” untuk lima ribu orang laki-laki dewasa, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Sebuah mukjizat hebat yang pasti kita rindukan di situasi krisis seperti ini. Siapa pun akan dengan senang hati menghadiri kebaktian yang limpah makanan. Dalam sebuah kebaktian besar yang diadakan oleh Yesus Kristus, ribuan orang hadir dengan berbagai motivasi dan rasa ingin tahu tentang siapa sesungguhnya Yesus. Ada yang mendengar nama besar-Nya, mukjizat yang dilakukan-Nya, dan aneka alasan lainnya.

Ibadah itu berlanjut menyenangkan hingga tiba pada pertanyaan Yesus yang menegangkan. Melihat orang banyak yang hadir, Yesus ingin memberi mereka makan. Sontak para murid kaget, karena merasa ini ide gila yang tak mungkin diwujudkan. Ribuan orang, dan para murid tidak memiliki stok makanan. Untuk sebuah pesta yang direncanakan saja perlu persiapan di sana-sini mengingat jumlah yang besar. Filipus, salah seorang dari murid yang ditanya Yesus, dengan cepat menjawab dalam hitungan yang sangat matematis: “Roti seharga dua ratus dinar sekalipun tidak akan cukup dibagikan, walau hanya untuk mendapatkan potongan kecil saja”. Artinya, jika ingin makan dalam jumlah yang layak agar semua menjadi kenyang, sudah dapat dipastikan dinar yang dibutuhkan akan amat sangat banyak. Ini baru untuk membeli roti, belum lagi lauk lainnya. Jadi, pesan Filipus jelas: “Guru jangan mempersulit diri dan kelompok kita. Biarkanlah mereka pulang dan mencari makanannya sendiri-sendiri”.

Tapi Yesus mau agar mereka memberi makan ribuan orang ini. Murid-murid kebingungan, namun Yesus bukan tidak tahu apa yang harus dilakukan-Nya. Dia sangat mengerti dan menguasai apa yang diinginkan-Nya. Dia bukan eforia kasih, atau mencari perhatian. Dia ingin murid-murid belajar untuk memikirkan dan merasakan apa yang menjadi kebutuhan umat. Maklum, hingga saat ini para petinggi agama banyak yang tak peka pada realita sekitarnya. Banyak yang berlomba untuk punya harta banyak, rumah dan mobil banyak, makan enak. Harta, makanan, tak salah, tapi jika menjadi tujuan pelayanan tentu saja sangat bahaya. Murid-murid hanyut dalam keheningan karena kebingungan.

Adalah Andreas, saudara Petrus, yang dikenal sebagai seorang pemerhati, mengungkap harap. “Di sini ada seorang anak yang punya lima roti dua ikan!” teriaknya. Tapi, lagi-lagi tapi, buat apa? Yang mau makan ribuan, bagaimana caranya membagi lima roti dan dua ikan itu. Ah, makan memang ada, tetapi jelas tak cukup. Yesus memandang mereka dan meminta agar orang banyak itu disuruh duduk. Suasana mencekam di antara para murid, sementara bagi orang banyak masih belum jelas apa yang akan dilakukan Yesus. Yesus menengadah dan berdoa, sangat sederhana, tak panjang-panjang apalagi bertele-tele, dan juga tidak berteriak-teriak. Ajaib, setelah mengucap syukur kepada Bapa sumber berkat, roti dibagi namun tak pernah habis. Semua makan, bukan potongan roti kecil saja, tapi juga ikan dan sampai semua kenyang. Bahkan masih tersisa dua belas bakul: simbol jumlah suku Israel. Ya, pesannya sangat jelas, Allah bisa memelihara umat pilihan-Nya yang 12 suku itu. Ada persediaan makanan buat mereka semua. Yang penting adalah apakah mereka mau percaya dan berserah sepenuhnya pada pemeliharaan Allah.

Buat murid-murid, mereka belajar tak ada yang mustahil. Mereka tak memiliki persediaan makanan tetapi mampu memberi makan. Mereka tak diajar untuk menumpuk makanan atas nama masa depan, tetapi berbagi demi kekekalan. Persediaan secukupnya untuk keluarga adalah kebijakan, tetapi berlebihan sementara yang lain kekurangan, itu adalah kejahatan, alias cinta diri. Mukjizat hebat ini terus menggema dan berdampak luar biasa. Minat beribadah dari umat semakin meninggi, hanya saja juga semakin menyimpang. Mukjizat yang mereka saksikan bukannya melahirkan kesadaran akan kebesaran Tuhan, tetapi malah dinilai menjadi celah untuk menggaruk keuntungan. Ya, siapa yang tak tertarik untuk makan gratis yang tak terbatas, makan gratis sampai kenyang. Mendadak mereka menjadi “pengikut Yesus yang baik”. Ikut Yesus karena akan mendapatkan apa yang mereka inginkan yaitu mukjizat sebagai pemuas rasa keagamaan.

Mukjizat bukan hal yang salah, bahkan Allah memakainya untuk kemuliaan nama-Nya. Yang salah adalah sikap umat ketika menjadikan mukjizat hanya bagi kepuasan diri. Merasa nikmat dengan makanan mukjizat, keesokan harinya mereka berbondong-bondong mencari Yesus. Mencari Yesus untuk mukjizat, bukan untuk pengajaran. Mereka mau makanan, bukan kebenaran. Ironis, tapi itulah fakta umat beragama. Bertuhan bukan untuk menaati ketetapan-Nya melainkan memaksakan kehendak sendiri. Tuhan Yesus menghardik mereka dengan ucapan yang tajam: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yohanes 6:26).

Ya, tanda-tanda keilahian Yesus sangat nyata ketika memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan. Sudah seharusnya mereka mencari Yesus untuk ajaran kebenaran, itulah sikap beragama yang terpuji. Namun, mereka sebaliknya, penuh dengan selubung, seakan mencari Yesus padahal mukjizat-Nya. Teguran Yesus terhadap mereka sangat tepat. Sikap orang banyak terhadap mukjizat yang dilakukan Yesus menjadi pembelajaran penting bagi semua umat. Perlu sebuah kejujuran terhadap diri tentang apa yang sesungguhnya kita cari ketika kita berbakti. Jangan ada kepalsuan di sana, sekalipun kita seringkali sukses menipu banyak orang. Ingat Tuhan tak akan tertipu, tapi juga ingat, Dia tak segera menghukum di kekenian masa. Banyak orang merasa sukses “ber-dasamuka”, padahal ada catatan penting dalam Matius 7:21-23, bahwa hukuman tiba di kekekalan, di mana mereka dibuang dari hadapan Tuhan. Bahkan termasuk di sana si pembuat mukjizat dalam nama Yesus, namun mengambil keuntungan untuk diri sendiri, bukan untuk kemuliaan Tuhan, sekalipun mulutnya selalu berucap semua ini untuk Tuhan.

Yesus sebagai hamba yang melayani tak mengambil kemuliaan bagi diri, melainkan untuk Bapa. Kembali kepada sikap serakah, merindukan mukjizat untuk memuaskan diri, atau untuk memenuhi seluruh keinginan hati sungguh tidak kristiani. Celakanya, para penggemar mukjizat masa kini justru mengabaikan ajaran Alkitab sebagai pesan dan ketetapan Allah yang tertinggi. Semua sangat suka roti, dulu maupun sekarang. Sedikit sekali yang cinta Yesus, kebanyakan cuma cinta karya-Nya. Sangat pantas jika Yesus berkata: “Banyak yang dipanggil, namun sedikit yang dipilih”.

Nah, sangat pas jika kita bertekad untuk mengenal kebenaran Alkitab lebih mendalam, dan menikmati persekutuan pribadi dengan Tuhan, bukan dalam kerangka melihat mukjizat-Nya, tetapi kerinduan mendengar suara-Nya. Percayalah, Allah pasti amat sangat tahu kapan harus membuat mukjizat, tetapi kita yang seringkali tidak tahu bagaimana bersikap yang tepat. Semoga kita terus belajar untuk tak memburu roti hasil mukjizat, tapi juga mengingat apa yang Alkitab katakan tentang perilaku umat Israel tentang manna, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan Firman Allah (Ulangan 6:3). Ingat manna adalah mukjizat Allah, dan umat Israel sangat menyukainya, bahkan berani melanggar ketetapan Allah tentang jumlah manna yang boleh diambil. Rupa-rupanya kecintaan terhadap mukjizat demi diri tak pernah kunjung usai.

Haruskah kita memperpanjang lagi kisah “dimarahi Tuhan” hanya karena soal makanan? Cukuplah sudah, dewasalah dalam iman yang percaya, bukan karena mukjizat melainkan karena iman.

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer