Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Wednesday, December 4, 2013

KEAJAIBAN SEPOTONG ROTI MENGHIDUPKAN YANG MATI

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

Apakah nyawa dapat dibeli? Itu sangat tergantung pada perspektif Anda memandangnya. Jika yang dimaksud adalah membayar orang untuk mencabut nyawa seseorang, tentu saja mungkin. Banyak pembunuh bayaran yang selalu menunggu order. Mereka yang sudah kehilangan belas kasihan, yang juga kehilangan rasa kemanusiaan, rela menjadi pencabut nyawa demi uang. Bagai binatang di tengah hutan, mereka membunuh tanpa perasaan bersalah, bahkan bangga dengan cara yang sangat salah. Entah setan apa yang ada bersama mereka ketika melakukan pembunuhan, tapi yang pasti mereka tak lebih dari budak setan itu. Namun, jika yang dimaksud sebaliknya, dengan sepotong roti membeli nyawa manusia (yang mati menjadi hidup), ini sudah pasti berita gila. Jangankan sepotong roti, harta seisi dunia pun tak dapat membeli sebuah nyawa.

Nyawa adalah kehidupan yang tak terbeli. Ia anugerah Sang Pencipta, bukan hasil usaha manusia. Banyak sudah ide gila untuk menghidupkan orang mati, namun itu hanya seputar isu yang tak menentu, atau fiksi yang berubah wujud bagaikan fakta. Namun yang pasti Anda tak akan menemukannya dalam kisah nyata. Bukankah keajaiban yang sangat besar jika roti dapat menghidupkan orang mati?

Alkisah di Sidon, yang terletak di pantai utara Galilea, sekarang masuk daerah Libanon, ada sebuah tempat bernama Sarfat. Di sana hidup seorang janda yang bukan Yahudi, namun dia adalah penyembah Tuhan. Hidup sederhana, bahkan dapat dikatakan miskin karena tidak memiliki roti sepotong pun. Dia hanya memiliki persediaan sedikit tepung, dan juga sedikit minyak. Persediaan yang jauh dari cukup untuk dirinya dan anaknya. Itu sebab ketika seorang nabi bertamu kerumahnya dan meminta air juga roti, membuatnya frustasi. Sang janda ingin menjamu tamu terhormatnya, yaitu Nabi Elia, namun dia tak punya persediaan yang cukup. Terlontarlah kata putus asa, “Aku akan membuat roti dari tepung yang ada bagiku dan anakku, lalu kami akan memakannya, dan setelah itu kami akan mati”. Sebuah ungkapan betapa permintaan sang nabi sangatlah memberatkannya. Namun jangan salah sangka, Elia sebagai nabi meminta, bukanlah karena egois, atau gila hormat, sehingga harus didahulukan karena kenabiannya.

Permintaan Elia adalah sebuah ujian keimanan, karena Elia ke rumah sang janda berdasarkan perintah Allah. Elia tak sembarang bertamu, apalagi merengek, atau memaksa untuk meminta. Elia adalah seorang nabi terhormat yang tak suka membebani, seperti kebanyakan nabi upahan saat itu. Atau seperti pengkhotbah selebriti masa kini yang gila materi. Itu sebab, Elia segera berucap, “Jangan takut! Buatlah roti bagiku, barulah untukmu dan anakmu, dan percayalah engkau tidak akan kekurangan, apalagi mati. Karena Tuhan telah berjanji, tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-bulimu tidak akan habis hingga waktu yang Tuhan tetapkan dan engkau dapat meneruskan kehidupan”.

Mengherankan sekali, si janda percaya saja, padahal waktu itu kemarau panjang melanda seluruh negeri, bahaya kelaparan mengancam. Seperti tak peduli pada kehidupan sendiri, dia melakukan perintah sang nabi sebagai utusan Allah yang harus dihormati. Air dan roti tersedia bagi Elia, sementara si janda dan juga anaknya mendapatkan bagian yang sama. Bahkan kini dia punya persediaan tepung dan minyak yang tak kunjung habis. Bukan saja persediaannya yang tak kunjung habis, dia juga tak habis berpikir bagaimana semuanya dapat terjadi. Tuhan telah menolongnya, bukan dengan menyediakan langsung apa yang menjadi kebutuhannya. Tuhan menolongnya justru dengan meminta dari dia, apa yang harus disediakannya, yang justru merupakan milik terakhirnya sebelum kematian tiba.

Ketika sang janda melakukan perintah nabi, dia bukan sekadar melakukan, tetapi percaya Tuhan berjanji benar lewat nabi utusan-Nya. Tindakan sang janda mencerminkan iman yang luar biasa. Namun tak dinyana, tepung dan minyak kini telah tersedia, tetapi anak semata wayang malah sakit keras dan akhirnya mati. Si anak dikatakan sakit hingga tidak ada lagi napasnya. Dalam terminologi ini, jelas yang dimaksud adalah mati. Ini didukung oleh ucapan sang ibu bahwa anaknya telah mati, dan juga tindakan serta ungkapan Elia, “Anakmu telah hidup kembali”.

Ini bukan mati suri. Tindakan Elia juga bukan merupakan sebuah metode untuk ditiru, karena yang menghidupkan anak itu adalah Tuhan, yang menjawab doa Elia. Jadi bukan cara Elia, melainkan doa Elia kepada Allah, yaitu supaya Allah mengembalikan nyawa anak itu. Lalu, apa hubungannya roti dan mati hidup kembali? Menarik sekali menyingkap nilai di balik peristiwa ini sebagai sebuah kebenaran yang luar biasa. Sang janda merasa akan mati bersama anaknya jika mereka tak lagi punya persediaan tepung dan minyak untuk membuat roti. Itu diungkapkannya dengan tegas kepada Elia. Namun ternyata, anaknya justru mati ketika dia punya persediaan tepung dan minyak yang cukup untuk membuat roti. Roti yang dinilai dapat memberikan kehidupan malah membawa kematian dalam kisah janda di Sarfat ini.

Lalu, apa yang membuat anaknya hidup kembali? Karena sang janda mendengarkan perintah Tuhan lewat sang nabi sehingga memberikan roti sekalipun sesudah itu persediaanya habis. Roti yang diberikannya kepada Elia telah mengajarnya banyak hal. Kematian anak yang diduganya lewat habisnya persediaan, justru terjadi di saat persediaan cukup. Anaknya mati bukan karena tidak ada roti, tapi yang pasti dia telah membagi roti bagi sang nabi, sehingga anaknya hidup kembali.

Awas, jangan terjebak pada kata roti, karena yang terpenting adalah sikap di balik pemberian roti, bukan sekadar rotinya. Kini sang janda tak hanya memiliki persedian yang cukup untuk membuat roti, tapi lebih dari itu, yaitu pengenalan akan kebesaran Tuhan yang mengherankan. Anaknya, bukan lagi sekadar anak, tapi kesaksian di mana Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya, dalam kehidupan anak yang sempat mati.

Seringkali dalam hidup masa kini, orang tak lagi sebijak sang janda dalam memahami kehendak Allah. Manusia modern akan memilih memiliki roti daripada memberi roti untuk sebuah janji surgawi. Sebagai orang modern, kita akan segera berhitung, dan sadar sesadarnya, bahwa memilki roti adalah kepastian hidup. Memberi roti sehingga tak lagi memilki itulah gong kematian akibat kelaparan. Tentu saja kalimat ini bukan berlaku umum, melainkan sebuah situasi khusus, yang bisa saja terjadi dalam kehidupan kita, dalam bentuk yang berbeda namun bermakna sama. Karena itu, tidaklah mengherankan jika Alkitab berkata: “Lebih berkat memberi daripada menerima”. Namun sekali lagi, ini juga bukan mantera untuk memancing rejeki, melainkan sebuah sikap iman sejati yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya. Sebuah tindakan yang datang dari hati yang murni dan penuh kerelaan. Bukankah sebuah keajaiban, dengan memberi roti justru mendapatkan kehidupan? Tapi ingat, roti yang diberi dalam kesombongan, atau perhitungan untuk menerima kembali, sungguh tak pernah layak bagi Tuhan yang mengetahui isi hati.

Semoga Anda menemukan makna sejati, nilai nilai rohani yang tinggi, dalam hidup sebagai orang beriman. Bukan berapa banyak rotimu, karena itu bukan keajaiban. Tapi berapa banyak engkau berbagi roti namun tak mati, bahkan hidup dalam kelimpahan anugerah Allah. Selamat menyibak misteri di balik roti dan mendapatkan arti yang sejati.

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer