Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Monday, December 10, 2012

DAMAI DI BUMI

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

            Sungguh indah kidung malaikat dimalam natal yang pertama. Cobalah bayangkan, dikesunyian malam, dikesendirian kelompok gembala, dan dikeletihan setelah keseharian tugas menggembalakan, tiba tiba mereka mendengar berita yang gegap gempita. Berita itu bukan tentang perintah Kaisar Augustus untuk mengadakan sensus. Juga bukan tentang kelanjutan hidup mereka, melainkan berita yang dinanti seluruh orang percaya, ya, dinanti umat pilihan disepanjang massa, yakni kedatangan Mesias kedunia. Berita itu amat sangat luar biasa, karena mereka hanyalah sekelompok gembala bukan pemuka agama, umat dari kelas bawah bukan birokrat penting. Usai berita luar biasa itu, malaikat menutupnya dengan kidung indah ; Kemulian bagi Allah ditempat yang maha tinggi dan damai sejahtera dibumi diantara manusia yang berkenan kepada Nya (Lukas 2:14).  

            Damai sejahtera dibumi, bagi orang yang berkenan pada-Nya, ya, bagi yang diperkenan. Tentu saja gembala masuk kelompok yang diperkenan, karena berita itu langsung tiba bagi mereka. Dan, Alkitab juga mengisahkan betapa bahagianya para gembala, mereka memuji dan memuliakan Allah. Namun berita damai sejahtera itu tidak serta merta merubah nasib mereka menjadi pemilik domba atau pengusaha wol besar. Mereka tetap saja gembala, namun kini mereka berubah menjadi gembala yang penuh sukacita. Kesukacitaan adalah originalitas spirit Natal yang seharusnya menjadi milik setiap orang disetiap periode jaman. Namun, semakin tua bumi sepertinya tampak semakin langka ekspresi kesukacitaan Natal itu.  

Natal seringkali menjadi beban tersendiri bagi banyak orang, karena menyangkut peningkatan pengeluaran. Sementara yang lain terlau antusias melengkapi asesoris diri sampai sampai lupa diri, apalagi makna Natal itu sendiri. Belum lagi yang dilanda rasa takut, kalau kalau bom meledak dihari Natal akibat ulah manusia yang telah menggadaikan kemanusiaannya. Manusia yang telah berubah menjadi monster yang menakutkan akibat virus ideologi salah yang telah merasuk jauh kedalam nuraninya. 

            Masihkah ada damai dibumi, dihari Natal yang suci? Jawabanya, masih tetap sama, ya, masih, yakni bagi orang yang diperkenan oleh NYA. Masalahnya, apakah masih ada orang yang berkenan pada NYA? Isu ini menjadi sebuah perenungan penting bagi setiap orang percaya dimanapun mereka berada. Jika hidup kita berkenan pada NYA, maka Natal menjadi milik kita. Tidak terlalu masalah BBM yang naik tanpa sopan santun, Elpiji yang tidak perduli, atau pergantian menteri yang tidak bergigi, atau juga teror dari teroris yang bengis. Damai Natal mampu menerobos seluruh dimensi kesulitan bumi. Damai Natal sangat besar, melebihi besarnya persoalan yang diciptakan manusia serakah, yang kehilangan nurani. Semoga anda adalah orang yang beruntung, memperoleh damai Natal, sehingga kumandang lagu malaikat yang bukan saja merdu terdengar ditelinga namun juga merdu dan meneduhkan hati yang gundah gulana. Ya, damai dibumi bagi orang yang berkenan pada NYA. Tidak penting siapa anda, apa posisi atau berapa populernya anda. Tapi penting, berapa dekatnya anda dan saya dengan DIA, bayi Natal yang suci dan penuh cinta kasih. Akhirnya sekali lagi selamat hari Natal, selamat damai dibumi, khususnya bumi pertiwi.

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer