Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Sunday, July 12, 2009

Melarang Ajaran Sesat, Tindakan Diskriminatif?

Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================

Bapak Pendeta yth.

Saya ingin bertanya soal ajaran sesat atau bidat yang berkembang saat ini menurut versi REFORMATA dan tokoh Kristen lainnya. Pertama, apa dasar kita mengatakan mereka bidat? Apakah hanya berdasarkan keyakinan iman kita? Lalu, apakah keyakinan yang berbeda dengan kita harus dicap bidat atau sesat? Bukankah itu merupakan ekspresi iman seseorang terhadap keyakinannya?

Jika mereka berbeda dengan kita, apakah mereka harus dilarang untuk berkembang di negara ini? Kalau memang seperti itu, maka kita menjadi orang munafik yang berteriak supaya diskriminasi terhadap kaum minoritas dihentikan, sedangkan kita pun berlaku diskriminatif terhadap mereka yang berlainan dalam memahami siapa Yesus, Allah Tritunggal, dan konsep keselamatan kita.

Kenapa kita tidak berlapang dada menerima kenyataan lahir dan berkembangnya ajaran Saksi Yehovah, Gereja Mormon, atau ajaran Advent yang dianggap sesat itu? Bukankah yang harus kita lakukan adalah membenahi ajaran dalam keyakinan kita, dan menghilangkan tindakan diskriminatif terhadap kaum minoritas, termasuk kita dalam memandang mereka yang berbeda dengan kita?

From: Rio
nobody@centaur.idwebhost.com

-------------------------------------------------------------------

Sdr.Rio, terimakasih untuk keterlibatan Anda di REFORMATA lewat rubrik ini. Membicarakan ajaran sesat dalam perspektif bebas mengekspresikan iman, pasti akan menjadi diskusi yang tidak bertepi. Bukankah para homoseksual (gay, lesbian) juga akan mengatakan bahwa ke-homo-an mereka adalah kebebasan rasa? Begitu pula selingkuh sebagai kebebasan diri.

Nah, kalau sudah begini, tidak ada lagi garis tepi yang bisa menjaga dan membuat kita tetap sebagai manusia. Hidup di Indonesia atau negara manapun juga tidak ada kebebasan yang absolut, bukan? Semua harus tunduk pada peraturan atau kaidah-kaidah yang ada. Begitu pula ketika seseorang menyebut dirinya sebagai Kristen, berarti dia rela tunduk pada kebenaran Alkitab. Benar menurut siapa? Ukurannya adalah benar menurut kesaksian Alkitab itu sendiri, kesaksian para rasul, kesaksian para bapak gereja dan tentu saja penggalian dan pengujian kebenaran, bukan penafsiran yang semau-maunya.

Nah, penafsiran yang kurang bertanggungjawab inilah yang seringkali menjadi sumber keradikalan dan kesesatan. Soal kesesatan, Yesus berkata dalam Matius 18:7; Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lalu hampir seluruh kitab Perjanjian Baru (PB), memperingkatkan tentang bahaya penyesatan dengan segala bentuknya. Jadi adalah panggilan dan tugas gereja menjaga agar umat tidak tersesat. Untuk itu gereja perlu menjelaskan iman Kristen yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Bahwa ada yang berkeyakinan lain, dan terbukti sesat menurut kebenaran Alkitab, maka itu harus dikatakan sesat. Saya kira itu bukan diskriminasi. Karena, jangan lupa, bagi mereka yang sesat itu, kita ini juga dinilai sesat. Kalau tidak, pasti mereka tidak akan memisahkan diri. Dan, jangan lupa yang disebut sesat itu masih memakai label Kristen dan gereja. Jika mau fair, mestinya mereka keluar dan tidak menyebut diri Kristen atau gereja.

Jadi, masalah ini harus dilihat secara berimbang, bukan? Bahwa mereka dilarang oleh negara, itu adalah kebijakan politis pemerintah (di Amerika yang liberal, tidak ada larangan, begitupula di Indonesia saat ini sudah ada beberapa yang mendapat ijin). Itu dalam perspektif politis. Bagi orang Kristen justru sebaliknya. Adalah tanggungjawab kita membawa mereka kembali kepada kebenaran.read more »

0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

 

Arsip Blog

Konsultasi Teologi

VIDEO

Entri Populer