JAMAN ini tepat seperti yang digambarkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 3: 2; jaman uang. “Manusia akan menjadi hamba uang,” tegas Paulus. Ya, kecintaan akan uang memang telah menggilas habis nurani banyak orang. Dalam surat yang sebelumnya kepada Timotius, Paulus juga telah menyinggung hal ini. Dalam 1 Timotius 6:10, dia berkata: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Sebuah kenyataan yang menggelisahkan.
Idealisme nyaris tak tersisa, bahkan jika ada yang memilikinya seringkali dianggap bodoh, tidak realistis, melepas kesempatan emas, dan berbagai penilaian lainnya. Orang tak segan-segan menjual kebenaran demi uang. Hati nurani secara perlahan tapi pasti, teriris habis. Dengan mudah kita menemukan pertengkaran hingga permusuhan karena uang. Bahkan kasus pembunuhan bermotif uang semakin meninggi jumlahnya. Pertalian darah dengan mudah bisa “putus” karena harta warisan yang juga sama dengan uang. Wajah dunia makin hari makin menyedihkan, tak lagi mampu memancarkan kemurnian yang murni. Kehidupan terus berubah, penuh basa-basi, semakin kehilangan arti kasih yang sejati, karena semua bisa dibeli. Orang kini bisa membeli senyuman, bahkan “perkawanan” hingga “pernikahan”. Semboyan asal ada uang semua bisa datang, semakin mendapat pembenaran dalam kenyataan. Namun yang paling menyedihkan adalah runtuhnya tembok keimanan.
Iman, yang seharusnya membuat manusia beriman berdiri teguh di tengah badai godaan uang, ternyata, juga turut mengalami goncangan. Banyak orang “beriman” kini tak lagi menyukai iman. Iman dianggap menyingkirkan diri dari pergaulan jaman. Orang tak dihargai karena beriman, melainkan karena beruang, begitu sinis yang muncul. Di lingkungan rohani virus ini terus menyebar luas. Ironis. Kini ada guyonan pahit: Jika berbisnis bukalah gereja, dijamin tak rugi, bahkan terkesan suci. Mengapa? Karena ternyata banyak “petinggi gereja” yang memang berbisnis dalam membuka gereja. Jabatan “pendeta” menempel tanpa pernah jelas dari mana asalnya, dan bagaimana bisa meraihnya. Pemahaman teologi tak ada, berkhotbah tak pernah, yang ada hanya kata bagaikan mantera, “Roh Tuhan berbicara pada saya…” Visi diungkapkan seakan datang dari surga untuk digarap di Bumi. Namun jika dicermati, hati tersentak karena semua bermuara pada sang pendeta.
Yang lain mungkin sedikit lebih baik dalam kemampuan. Sekalipun tak memiliki pemahaman teologi, namun karena fasih lidah sang pendeta berkhotbah. Yang dikisahkan selalu yang meninabobokkan umat. Sukses yang semu dikumandangkan dalam apa yang disebut kesaksian, sementara kebenaran sebagai buah hidup orang percaya, nyata-nyata, tak tampak. Pendekatan emosi selalu menjadi pola karena sukses mendulang hasil. Lagi-lagi ungkapan rohani: “sentuhan Roh Kudus”, menjadi kata-kata sakti yang membutakan umat untuk tak lagi menguji segala sesuatu. Padahal Alkitab jelas berkata, “jangan padamkan Roh, namun ujilah segala sesuatu” (1 Tesalonika 5:19,21). Umat percaya habis, dan dana mengalir kencang. Tampaknya tak jelas berakhir di mana. Karena ada gedung gereja, aset gereja dan lainnya. Seakan pemakaian uang tampak nyata, namun ternyata, di balik semuanya tersisa masalah yang luar biasa. Aset atas nama pribadi pendeta, sering terungkap setelah pendeta tiada. Terjadilah tarik-menarik aset yang sungguh tak menarik sama sekali.
Yang sedikit lebih canggih, aset atas nama yayasan, atau bahkan gereja. Namun dalam akte notaris ternyata susunan pengurus didominasi oleh keluarga pendeta. Lagi-lagi untuk suara terbanyak, pengurus dan umat kecele. Tapi ada yang lebih halus lagi, seakan pengurus tidak didonimasi keluarga pendeta, namun ternyata bunyi klausul yang ada memberikan kekuasaan tak terbatas pada pendeta atau segelintir orang dekat pendeta, atas aset yang ada. Umat selalu berkata, itu urusan pendeta dengan Tuhan, dan tentu saja pendeta senang karena memang pemahaman itu yang ditabur untuk dituai. Umat telah digiring pada paham yang salah, sehingga tak lagi kritis, apalagi menguji sesuai kata Alkitab. Belum lagi ketakutan akan kutuk yang selalu ditebar, seperti “jangan mengganggu pendeta, karena dia adalah biji mata Tuhan”. Pengultusan dilakukan dalam waktu yang lama lewat indoktrinasi. Sayangnya, umat semakin teggelam dan gelap mata menghargai pendeta, sekalipun nyata-nyata salah. Apalagi jika lingkungan pelayanan diwarnai suasana adan ajaran yang mistis, dan lagi-lagi, obral kata-kata “kehendak Roh”.read more...
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com
Thursday, October 1, 2009
PENDETA KAYA BERKAT LUAR BIASA
Situs Alternatif Download Khotbah
===============================================================
============================================================================
Anda diberkati? Bagikan Berkat ini ke Teman Anda
Related Posts :
Kaya
- BAM 130 Kaya dan miskin makna kehidupan (Amsal 13:7-8) | BIJAKSANA AMSAL
- Kaya Adalah Berkat
- Lamban Miskin Rajin Kaya
- Ada Apa Dengan Jemaat Laodokia
- Injil
- Siapa orang kaya - MI - Jujur
- Kaya Dan Bahagia, Apa Bisa? - Bigman Sirait - 20081026
- Tak Mampu Berbagi, Beroleh Sengsara
- Kesenangan yang Tidak Bernilai
- SUSAHNYA SI KAYA KE SURGA
- TUHAN ATAU MAMON
Berkat
- BAM 144 Bijak mencari tongkat mendatangkan berkat (Amsal 13:24)
- Berkat besar bagi kota (Amsal 11:10-11)
- Kaya Adalah Berkat
- BERKAT DALAM PENDERITAAN
- BERKAT DALAM KEHILANGAN
- BERKAT DALAM KESAKITAN
- PENDETA KAYA BERKAT LUAR BIASA
- Pengutusan Jemaat 20121117
- Menghitung Berkat Untuk Menjadi Berkat (Kenaikan TY 2010)
- Berkat Dalam Kemiskinan
- Berkat Dalam Kekayaan
- Berkat Dalam Kesehatan
- Berkat Dalam Kesakitan
- Berkat Dalam Pendapatan
- Berkat Dalam Kehilangan
- Berkat Dalam Kemiskinan
- PEMBERI YANG DIBERKATI1 Mengapa Memberi
- PEMBERI YANG DIBERKATI2 Pemberian Janda Miskin
- PEMBERI YANG DIBERKATI3 Pemberian Zakheus
- PEMBERI YANG DIBERKATI4 Pemberian Paulus
Mata Hati
- MANUSIA TAK BERIMAN, APA BISA?
- ANTARA IMAN DAN SUGESTI
- TITIK PARADOKS IMAN
- IMAN YANG MENEMBUS WAKTU
- KAYANYA IMAN JANDA MISKIN ITU
- MAUMU ATAU MAUNYA TUHAN
- Dengan Iman GUNUNG ITU PUN PINDAH
- IMAN DAN PENGALAMAN
- PERNIKAHAN INDAH IMAN DAN PENGETAHUAN
- IMAN YANG BENAR
- Money Laundry, Sin Laundry
- PENDETA KAYA BERKAT LUAR BIASA
- SUSAHNYA SI KAYA KE SURGA
- BERBAKTI DEMI ROTI
- POLITIK UANG DI GEREJA
- KETIKA NUBUATAN DIUANGKAN
- MEMBERI UNTUK MEMBELI
- MENJAJAKAN KEBENARAN
- MEMBELI CINTA
- HARGA JUAL YESUS
at
1:32 PM
Labels: Berkat, Kaya, Mata Hati
0 comments:
Post a Comment